Friday, July 15, 2016

Hiking di tepi Ilulissat icefjord

Salah satu agenda utama kegiatan di Ilulissat adalah hiking. Kota ini mempunyai salah satu dari the best hiking trail in the world, dimana salah satu jalurnya menuju icefjord yang merupakan UNESCO World Heritage Site, karena keunikannya dan juga sekaligus kontribusinya pada riset ilmiah yang berkaitan dengan perubahan iklim di kutub.
Ada 4 jalur hiking utama, ditandai dengan warna kuning, hijau, merah dan biru

Hiking trail 

Kami menjelahi semua 4 jalur tersebut, yaitu kuning, merah, hijau dan sebagian jalur biru. Total jarak yang kami jalani jauhnya 7km.
Jalur kuning
Bunga arctic
Tonggak penanda jalur kuning. Jauh dilatar belakang terlihat jalur hijau yang terbuat dari patio kayu



 Jalur Hijau






Jalur Biru

Pertemuan jalur hijau dan jalur biru
 Jalur Biru
Petunjuk yang membingungkan.
Setelah melihat petunjuk ini, kami malah
tersesat sejauh 3km di medan yang sulit

Akibatnya tanda warna jalur yang membingungkan kami harus kembali lagi, untuk mencari jalur merah untuk kembali ke kota. Aku sadar bahwa kami tersesat terlalu jauh setelah melihat di GPS. Sebelumnya aku hanya mengandalkan tanda pada hiking trail  saja.


Tanda panah warna hitam adalah perjalanan di hiking trail yg kami explore

Dari ke 4 jalur tersebut, hanya di jalur biru yang benar benar kosong. Pada jalur warna kuning, hijau dan merah, sesekali kami masih bertemu dengan beberapa hikers. Biasanya sesama hikers akan saling menyapa bila saling berpapasan. Bila saling berpapasan tetapi tidak saling menyapa, biasanya orang tersebut adalah turis yang ingin melihat lihat saja, dan mereka biasanya hanya berada di awal hiking trail, tidak sampai ke ujung trail.
Total hiking kami dalam 9km (sejak keluar dari penginapan, sampai kembali ke penginapan lagi) sekitar 7jam, cukup melelahkan


  Saat hiking di Ilulissat yellow track

Thursday, July 14, 2016

27 Juni - Sulitnya mencari penginapan di Ilulissat

5 bulan sebelum berangkat, aku mulai mencari hotel untuk menginap di Ilulissat. Ternyata susah sekali mencari hotel ataupun penginapan di sini. Satu satunya yang ada di Ilulissat ini hanyalah 1 kamar untuk 2 orang. Aku heran, apakah orang orang mulai memesan hotel disini jangan jangan 1 tahun sebelumnya. Ataukah sebagian besar sudah diborong oleh travel agent yang sudah mengetahui bahwa pada musim panas akan sulit sekali mendapatkan hotel bila tidak pesan jauh jauh hari sebelumnya.
Yang aku dapatkan pun kali ini bukanlah sebuah hotel. Bayanganku sebelumnya, aku kira setidaknya ini adalah motel. Ternyata bukan juga.
Penginapan Unnuisarfik Issikivik. Pemandangan lepas pantai lengkap dengan gunung es dan kapal yang sedang berlabuh
Penginapan yang aku dapatkan adalah sebuah rumah pribadi, dengan 2 kamar tidur yang terpisah dengan rumah utama pemiliknya, dibatasi dengan sekat. Aku menyewa 1 kamar dengan 2 tempat tidur. 1 kamarnya lagi, saat aku menginap, ditinggali oleh seorang nenek yang cukup "ajaib".
Penginapan ini lumayan mahal harganya, hampir 2Juta/malam. Tetapi karena tidak ada pilihan lain, akhirnya aku pilih penginapan ini.
Lisa sedang menyiapkan Indomie dan bubur untuk sarapan pagi
Di dalamnya cukup bersih. Pemandangan dari jendela, kami bisa melihat beberapa gunung es di lepas pantai Ilulissat. Ada kamar mandi di luar dan sebuah dapur dan ruang makannya.
Salah satu keuntungannya adalah, jaraknya yang cukup dekat dengan hiking trail yang akan kami jelajahi. Tetapi jaraknya ke pusat kota pun hanya 5-10 menit berjalan kaki. Temperatur siang hari di musim panas yang tidak pernah mencapai 20 derajat Celcius, benar benar menyenangkan untuk berjalan kaki kemanapun. Pada malam hari temperatur mencapai 5-10 derajat Celcius.

29 Juni - Makan bersama penduduk Greenland (Inuit / orang Eskimo)

Orang orang Inuit mempunyai wajah mirip orang China / Jepang /Korea, karena menurut mereka, memang asal muasal mereka adalah dari Mongolia. Logat dan budaya mereka lebih mirip ke Asia daripada Eropa.






Pada suatu ketika, pemilik apartemen yang bernama Bibi, tempat aku menginap tiba tiba masuk ke apartemen. Saat itu aku dan Lisa sedang ngobrol ringan dengan salah satu tamu yang menginap, sambil menikmati keripik kentang, bir dan sejenis whisky (Jagermeister). Karena ini malam terakhir kami bersama di Ilulissat, maka kami memutuskan untuk menghabiskan makanan yang tersimpan di kulkas bersama sama. Kami menyuruh Bibi masuk untuk mencicipi minuman yang aku sengaja beli di Duty Free saat mau terbang ke Greenland. Ternyata Bibi pun berkenan mengajak kami masuk ke rumahnya, yang bersebelahan dengan ruangan apartemen yang kami sewa.
Tanpa berpikir 2kali, kami langsung menyerbu masuk ke rumah pemilik apartemen. Aku membawakan beberapa bungkus rokok dan Jagermeister untuk meramaikan suasana. Disana banyak sanak dan keluarga Bibi, yang ternyata malam ini sedang merayakan ulang tahun Anda, suami Bibi.
Makanan yang disajikan banyak sekali, dan kami mencicipi beberapa makanan, di antaranya sirip ikan paus mentah
Keceriaan merayakan ulang tahun sang kepala keluarga

Hidangan khas keluarga Greenland. Dari kiri atas, searah jarum jam : daging rusa kutub, sirip ikan paus, salad, dan makanan sea food diantaranya kepiting kutub.
Penduduk Greenland mempunyai kebiasaan suka minum minuman keras dan merokok. Rokok dan minuman keras harganya berlipat lipat dari harga di daratan Eropa. Sehingga saat aku membawakan mereka 2 barang tersebut, merekapun senang sekali




Sunday, July 3, 2016

28 Juni - Ilulissat : kota yang dikelilingi gunung es

Ilulissat memiliki penduduk yang berjumlah sekitar 5000 orang. Kota ini sangat sepi, dan segala sesuatunya berjalan lambat dan santai. Keindahan kota ini adalah gundukan es di pantai, mulai dari yang hanya seukuran batu bata, hingga sebesar gunung. Warnanya yang putih kebiruan, makin terlihat indah saat tengah malam atau menjelang subuh. Warnanya biru putih bercampur cahaya matahari yang berwarna keemasan. 
Muara dari gunung es yang berasal dari tengah dataran es Greenland

Sunyinya pusat kota yang hanya terdiri dari 5000 penduduk

Air terjun dari sebuah gunung es raksasa di lepas pantai Ilulissat

Semua wilayah Greenland terletak di wilayah pesisir pantai. Bagian tengah pulau raksasa yang lebih luas dari benua Australia ini tidak bisa dihuni karena suhu yang ekstrim dingin dan kontur es purba yang sangat tidak rata dengan banyak retakan dan pergerakan permukaan es setiap saat. 
Pada peta Greenland ini, bagian tengah berwarna putih tidak bisa ditempati karena merupakan permafrost (es abadi). Hanya area berwarna hijau yang bisa ditinggali manusia

Sedangkan wilayah kota Ilulissat ini lebih unik lagi, dimana bagian belakang kota ini adalah gunung gunung es dan samping serta bagian depannya adalah laut yang sebagian besarnya berisi gunung gunung es tumpahan dari daratan, dan disebut sebagai Icefjord.
Penduduk di Greenland , khususnya Ilulissat ini sebagian besar bekerja sebagai nelayan. Rumah rumah mereka umumnya memiliki konstruksi khusus seperti rumah panggung. Karena sebagian besar tanahnya yang terdiri dari batu granit dan marmer yang sangat keras, dan es abadi, sehingga harus ditancapkan pilar pilar beton yang menembus jauh ke dalam tanah dan tampah seperti kaki.
Tipikal rumah di Greenland yang berada di Utara lingkaran kutub, berwarna warni cerah. Dan mempunyai kaki seperti rumah panggung, dimana dibagian bawahnya seringkali berfungsi sebagai tempat penyimpan bahan makanan. Tentu saja tidak perlu lemari es, karena suhu udara di bawah tanah seringkali suhunya dibawah 0 derajat Celcius

Monday, June 27, 2016

H+2 - Dubai - Copenhagen

Sesampai di Dubai, rencananya aku mau mandi dulu (ada shower di lounge). Petugas mencatat boarding pass, lalu mempersilakan aku untuk menunggu. Di luar dugaan, ternyata antrian orang yang menunggu shower masih ada 13 orang antrian di depan aku. Padahal hanya ada waktu sekitar 2jam sebelum boarding ke pesawat. Tidak mau ambil resiko, acara shower terpaksa di tiadakan. Diganti dengan acara cuci muka dan menggosok gigi di toilet. 

Sesaat setelah transit di Dubai, kamipun mulai naik ke pesawat sekitar jam 8 pagi.  Kabin di penerbangan ini agak beda dengan penerbangan sebelumnya. Tempat duduk pun lebih luas dan bisa diluruskan menjadi flat bed. Kurang tidur di penerbangan sebelumnya, lumayan terbayar di penerbangan kali ini.

Sunday, June 26, 2016

Itinerary khusus Iceland

Berikut ini adalah perubahan last minute khusus untuk jadwal di Iceland 1-5 Juli 2016

Saturday, June 25, 2016

H+1 Berangkat dari Jakarta ke Dubai

Hari ini, tepatnya 40 menit lewat dari tengah malam, kami berangkat dari Jakarta dengan pesawat Emirates.
Barang bawaan kami adalah 1 backpack besar dan 1 koper ukuran sedang.
Selain itu, membawa 2 tas kecil untuk di kabin.
Perjalanan kali ini, seperti biasa , kami tidak membawa terlalu banyak pakaian. Yang paling banyak adalah :
- jaket tebal + wind proof + waterproof
- celana waterproof
- sarung tangan tebal
- buff dan topi musim dingin dengan penutup kuping
- payung + jas hujan
- trekking pole / hiking stick

Kegiatan kami ke greenland dan iceland sebagian besar untuk menikmati aktifitas outdoor. Tetapi karena cuaca di kedua negara itu dingin dan sering hujan, jadinya perlengkapan yg dibawa jadi lumayan berat